Masihkan dari kita esok
pagi melihat ufuk timur,
Di kala matahari terbit ?
Tentu hanya Tuhan yang tahu
Hari-hari yang kita lalui
diatas dunia ini,
Kian membuat kita merenung
tentang arti
Dan makna sesungguhnya dari
kehidupan.
Bahwa jalan kita kian berat
dan menanjak
Sebab umur terus menguras
segala kekuatan
Mata
kian lamur, gigi kendur, uban bertabur
Masihkan
esok senja
Diri
kita melihat ufuk barat disaat lembayung senja
Hanya
Tuhan yang tahu
Tetapi
diri ini masih merasa muda saja.
Hanya
rambut sedikit berbeda dua warna kalian tidak sadar,
Bahkan
dicat dan pura-pura masih muda saja.
Satu
demi satu senior-senior atau kawan-kawan sendiri pergi
Dan
waktu tak akan dapat diputar kembali.
Ternyata
hidup bukanlah bola berputar yang tiada ujung pangkalnya.
Tetapi
Hidup adalah sajadah yang tergelar.
Di
ayunan tiada daya dan upaya
Hingga
digoyang diatas keranda
Henuju
lubang lembab gelab dan keabadian
Yaitu
lubang-lubang kematian.
Dari
waktu kewaktu hidup bergerak,
Sehingga
kita bertambah usia.
Apakah
ini puasa terakhir kita,
Dan
tahun depan tiada lagi. Barangkali iya .
Hanya
Tuhan yang tahu.
Setelah
kyai Tubagus Hasan Basri,
Pak
Hasamul Arifin Pergi.
Pak
Amris dan pak Syafri pun pergi
Siapa
lagi Siapa lagi
Bahkan
kenang-kenangan tentang senior kita itu
Tak
sempat kita bukukan, lenyap begitu saja.
Dari
Ramadhan ke Ramadhan kita menambah umur,
Dari
puasa ke puasa kita berjumpa,
Kita
absen saudara-saudara kita yang tersisa.
Adakah
ini Ramadhan terakhir kita ?
Semakin
akau merangkul hidup,
Semakin
aku masuk kedalam putaran hidup,
Ialah
sebagai puasaran besar menenggelamkan orang satu persatu.
Adakah
besok kita melihat cakrawala
Atau
jasad kita tertelungkup kedalam tanah
Sehingga
diri kita tak dapat lagi memandang batas cakrawala
Hanya
Tuhan yang tahu.
Dibacakan di kediaman Prof. Herry
Suhardianto (rektor IPB).
12 Juli 2013
0 Response to "Bentang Cakrawala Masihkah Terlihat Di Ufuk Timur dan Barat"
Post a Comment