1.
Bahagia engkau kawanku
Apabila telah
sampai apa yang dituju
2.
Mengapa engkau menangis
Bukankah
engkau girang
Kuatkan hatimu
Lulur tangismu
Ambil kembali
penamu
3.
Hidup yang dijalani si Amat
Tidak dapat
dipindahkan menjadi hidup yang dijalani si Ali
Dan hidup yang
dijalani si Ali
Tidak dapat
dipindahkan kepada si Amat
4.
Kebenaran itu menang terus
Tidak pernah
kalah
5.
Teruskan perjuangan, tetapi jangan disesali
Apa yang
didapati belum memuaskan
6.
Bukit tinggi boleh didaki
Lurah dalam
berkala-kala
Penat kaki
boleh berhenti
Berat beban
siapa bawa
7.
Orang padang mandi ke gurun
Mandi berliman
buah pala
Hari petang
matahari turun
Dagang berurai
air mata
8.
Pantun itu membentuk budi
Memperkaya
bahasa dan memperhalus rasa
9.
Mulut tabuh bisa disumbat
Mulut manusia
tidak
10.
Dimana-mana hendaklah kebenaran tetap ditegakkan
11.
Janganlah engkau banyak bertanya
Apakah sebab
jadi begini
Sama kehendak
dari TuhanMu
Didalam takdir
sudahlah tentu
12.
Ketahuilah olehmu bahwa selama kita masih hidup
Kita senantiasa
akan mendapat ujian
Dengan yang
baik atau yang jahat
Dengan
kemudahan ataupun kesulitan
13.
Barangsiapa yang lari
dari medan perjuangan
Tidaklah dia
akan terlepas dari apa yang ditakdirkan Tuhan
14.
Kemana kita akan lari ?
Padahal
disetiap sudut dari kehidupan
Takdir Ilahi
senantiasa menunggu kita
15.
Memegang dan mempertahankan pendirian dan keyakinan
Tidaklah
selalu membawa bahaya
Bahkan asal kita
tetap tawakal kepada Tuhan
Bukan bahaya
yang akan menimpa tetapi mungkin menguntungkan
Janganlah
hanya mengingat bahaya tetapi ingat pula akan keuntungan itu
16.
Walaupun tuan – tuan Raja sekalipun
Janganlah tuan
– tuan hendak memegahkan diri dihadapan Allah SWT.
Janganlah tuan
– tuan takabur sesama makhluk
Dari tanah
asal tuan-tuan dan ke dalam tanah tuan – tuan akan kembali
17.
Janganlah yang merasa kuat
Hendak selalu
menindas kepada yang lemah
Walaupun
cacing itu sangat lemah
Kalau dia
dipijak, dia mesti menggeleong juga
18.
Imam yang sejati, tidak ada tempatnya takut melainkan Allah
Walaupun
disana ada pedang yang tajam, disini menunggu leher yang genting
19.
Tetaplah menegakkan agama Islam
Berpeganglah
teguh dengan Qur’an dan sunnah
20.
Pikir pelita hati, janji padang kata-kata
21.
Selama nyawa masih di kandung badan
Dan di bumi
yang mana juapun
Saya akan
tetap berjuang menegakkan agama
22.
Ayat Tuhan adalah kebenaran
Yang siapa
saja pun harus tunduk
Walaupun ada
pangkat yang dijabatnya
23.
Kematian adalah menurut adres yang telah diatur lebih dahulu
Walaupun
kemana kita melarikan diri
Kalau adres
tepat kepada diri kita tidaklah dapat kita elakkan
Tetapi kalau adres
bukan kepada kita
Walaupun jatuh
didekat kita
Belumlah kita
akan mati
24.
Jangan terlalu mewah
Kalau hidup
pemimpin terlalu mewah
Segan rakyat
mendekati
25.
Dimana saja manusia akan mati
Tidak ada
kelebihan dan keutamaan
Mati di
kampung atau mati di rantau
Yang penting
adalah suatu perkara
Yaitu adalah
tempat-tempat kita dikuburkan itu
Sudi menerima
kita karena kita yang shaleh
26.
Bukit tinggi boleh didaki
Lurah dalam
berkala-kala
Penat kaki
boleh berhenti
Berat beban
siapa membawa
27.
Berani karena benar
Takut karena
salah
28.
Hendaklah engkau menolong orang yang sengsara
29.
Akan selamatlah suatu bangsa
Kalau orangtuanya
dan guru-guru mengenal jiwa anak-anak
30.
Senantiasa yang mendorong untuk maju
Ialah bakat
percaya kepada diri sendiri
31.
Bebankulah
sarat
Tetapi cinta
negara lebih berat
Biar kaki
tinggal sekerat
Aku
lanjutkan juga biar larat
32.
Hidup
itu tidaklah lama, jika diingat sebelum kita lahir
Dunia telah
berusia miliar tahun dan jika mati,
Dunia akan
tinggal miliar tahun pula
Nilai hidup
yang hanya sekejap itu
Haruslah kita
sendiri yang mengisinya
33.
Bila
engkau masuk ke dalam tepat yang bukan tempatmu
Engkau kelak
akan keluar kembali dengan penuh rasa sesal
Sedang umur
yang dilalui tidak dapat dipulangkan lagi
34.
Perluas
dadamu, perlapang hatimu, pandang alam dari segala seginya
Engkau
ulurkan kedalam hatimu apa yang dirasai orang lain
dan Engkau
tambahkan ilmumu
Di waktu
seperti itu akan berfaedah agamamu
Bagi dirimu
dan bagi orang lain
Di waktu
semacam itu Engkau bercahaya dan memberi cahaya
35.
Kebebasan
bukanlah karena keturunan
Kebesaran
bukanlah karena ilmu
Meskipun keturunan
dan ilmu boleh menjadi alat
36.
Untuk
menempuh kebesaran
Kebesaran
adalah kesanggupan seseorang mengetahui kesulitan zamannya
37.
Cita
terletak di puncak gunung
Jalan ke
gunung berlurah berbukit di tengah sawah
Jangan termenung
lanjutkan juga betapapun sulit
38.
Kalau
harga gadis-gadis itu telah murah
Dan dia
telah menonjolkan dirinya
Keindahan syair
percintaan merosotlah
Perlu apa khayal-hayalan,
membuang waktu
Padahal mendapatkannya
tiada sukar
39.
Walaupun
musnah harta benda
Harga diri
janganlah jatuh
40.
Hanya
dua tempat bertanya
Pertama Tuhan
Kedua hati
sendiri
41.
Jika
hartamu sudah tak ada
Belum engkau
bernama rugi
Jika berani
tak ada lagi
Separuh
kekayaan porak poranda
42.
Jikalau
jatuh martabat diri
Musnah
segala apa yang ada
43.
Jikalau
dasar budimu culas
Tidaklah
berubah karena pangkat
Bertambah
tinggi jenjang ditingkat
Perangai
asal bertambah jelas
44.
Hanya
sekali singgah ke alam
Sesudah mati
tak balik lagi
Setelah
tidur di kubur kelam
Baru orang
tahu siapa diri
45.
Apalah
gunanya di dalam mengamalkan suatu perbuatan yang dirasa suci
Meminta
orang lain supaya memperhatikan
46.
Pergerakan
yang mengabaikan rumah tangga
Tak ubahnya
dengan menghasta kain sarung
berputar-putar
tetapi disana kesana juga.
Kembalilah
kerumah, perbaiki rumah tangga
47.
Apabila
suatu ilmu hendak dituntut
Hendaklah dimulai
dari pangkalnya
Supaya
sampai dengan teratur kepada akhirnya
48.
Jangan
lupa menyimpan buku catatan
Buah renungan
yang tiba-tiba
Dan ilham
yang menjelma bedah ingatan yang tidak disangka
Sungguh sangat
mahal harganya
Sukar dapatnya,
lekas-lekaslah tangkap dan tulis dibuku catatan
Melalaikan
barang demikian adalah kerugian yang paling besar
49.
Kesabaran
dan ketetapan hati itu yang amat perlu dalam perjuangan menuntut ilmu
50.
Meskipun
telah pandai, telah pintar dan otak terang
Janganlah berfikir
hendak mengalahkan guru
51.
Tanda gading ialah retak
Tanda manusia
ialah terdapat kesalahan padanya
Jangan malu
bertanya di waktu ragu
52.
Halaman dan pekarangan sekolah adalah tempat melatih budi
53.
Karena akal budi adalah laksana berlian yang baru keluar dari
tambang
Masih kotor
dan belum berkilat
Adalah guru
yang menjadi tukang gosok dan membersihkannya
Sehingga menjadi
berlian yang berharga
54.
Guru-guru yang oleh segala agama diwajibkan menghormatinya
Karena dialah
tiang sebenarnya dari bangunan suatu bangsa
55.
Kalau adalah di dunia ini suatu pengorbanan
Kejujuran dan
kelapangan hati
Satu diantaranya
adalah pekerjaan guru
56.
Kalau aku telah sanggup menyelidiki diri sendiri
Tandanya aku
tidak dibentuk oleh adabku sendiri
57.
Bersikaplah terus terang dan jujur
58.
Janganlah menunjukkan sembarang ilmu atau adab
Kalau tidak
pada tempat dan waktunya
Supaya tidak
menjemukkan
59.
Memberi pengajaran sopan santun hendaklah
Dilakukan dengan
keadaan dan tingkatan murid dan otak anak
60.
Biasakan duduk sendiri, bermenung dan tafakur
61.
Jangan terlalu ingin menjadi yang terkemuka
62.
Kalau engkau dimuliakan orang,
Hendaklah rendahkan
diri
63.
Jangan lekas marah
Hendaklah hormati
diri sendiri
64.
Siapa yang dapat menahan marahnya
Dia akan dapat
kemuliaan yang banyak
65.
Jangan duduk bersama orang yang suka berbicara cabul
66.
Kalau iman orang tua sendiri lemah
Anaknya
diserahkan kepada sekolah
Sementara di
sekolah hanya pengajaran, bukan pendidikan
Kalaupun ada
pendidikan, hanyalah pendidikan yang salah
Pendidikan
yang menghilangkan pribadi
67.
Hidup itu tidaklah akan berarti
Kalau tidak
dengan gerak, usaha kerja, takbir dan baik kelakuan
Supaya
tercapai ilmu, rizki, kesenangan pikiran dan kemuliaan
68.
Berani hidup jauh mulia dari berani mati
Agar jangan
menyerah saja kepada orang lain
69.
Hujan emas di negeri orang
Hujan batu di
negeri sendiri
Namun negeri
sendiri teringat jua
70.
Cinta tanah air adalah perasaan halus dan dalam dihati
manusia
Bahkan cinta
tanah air itu timbul dari iman yang sejati
71.
Cinta tanah air menimbulkan riwayat-riwayat besar
Menimbulkan
pikiran-pikiran mulia dan syair yang indah-indah
72.
Cinta sejati tidak meminta balas jasa
73.
Didalam mencintai tanah air
Salahlah kalau
orang meminta balas jasa
Sebab tanah
air yang berjasa kepada kita
Bukan kita
yang berjasa kepadanya
Bukankah
diatas persadanya kita telah dianugerahi hidup ?!
74.
Bila cinta tanah air telah mendalam
Meski dalam
kepapaan dan penderitaan, badan berasa dalam syurga juga
Hanya dapat
dirasakan, tidak dapat dikatakan
75.
Umur sebutan itu lebih panjang daripada umur manusia
Umur batu
nisan lebih panjang dari umur badan
76.
Hidup bukanlah buat berpesta atau meratap
Hidup adalah
buat bekerja
77.
Manusia tidak mendapat haisl daripada cucur keringat orang
lain
Tapi dari
cucur keringatnya sendiri
78.
Agama adalah penuntun akal
Memberi
petunjuk jalan yang lurus
Agama jadi
pimpinan untuk mencapai kenaikan tingkat akal
79.
Berfikir satu saat, lebih besar harganya dari beribadat satu
tahun
80.
Yang bernama hidup bukanlah nafas yang turun – naik
Karena tidak
sedikit orang yang nafasnya turun – naik
Tetapi dia
mati
Dan tidak
sedikit orang yang nafasnya sudah berhenti turun – naik
Tetapi masih
hidup lantaran akalnya
81.
Kitab ajaran Allah ada dua
Pertama kitab
yang tertulis
Kedua yaitu
alam yang terbentang dihadapan kita
Yang dapat
kita baca dengan tenang, ketika pikiran bersih
Disana banyak
sekali pelajaran-pelajaran yang ajaib
82.
Dengan akal pikira itulah mencari Tuhan
83.
Seorang manusia mempunyai kesempatan surut
Kepada kebenaran
didalam masa yang pendek
Yakni jika
keturunan yang datang dibelakang
Mengambil iktisar
dari nenek moyangnya yang dahulu
84.
Kesalahan kehidupan modern sekarang ini
Ialah karena
terpisahnya antara kebendaan dengan kejiwaan
Ilmu sudah
sangat maju, tetapi tidak dikenal lagi kemana tujuannya
85.
Supaya dunia ini senantiasa menuju kepada kesempurnaan
Hendaklah
segala kebendaan disertai hidup kejiwaan
86.
Ketika berjuang memajukan hidup lahir dengan perniagaan
pengembaraan
Jika terdengar
seruan Tuhan segera datang kesana
87.
Menguatkan rohani dengan mendekatkan diri kepada Tuhan dan
kehidupan akhirat
Tidak berarti
meninggalkan dunia, tetapi memberi tuntunan
88.
Orang boleh jadi presiden, jurnalis, politisi, pengusaha
Penyelidik berbagai
ilmu, jadi tani atau tukang rumput
Tetapi hadapkan
itu semua mencari ridho Allah SWT
89.
Apalah arti hidupku dan hidup tuan sebagai manusia
Atau sebagai
bangsa kalau tidak ada cita-cita besar
90.
Apalah arti hidup yang kurang dari sekejap mata ini
sebelum kita
lahir, umur dunia telah beribu tahun
Dan kalau kita
mati duniapun akan tinggal beribu-ribu tahun lagi
Kecuali memasukan
pikiran-pikiran besar kepada dunia
91.
Ketika
buku yang saya baca baru lima buah
Saya cepat
sekali menyimpulkan satu hal mengenai agama dan emosi
Tapi ketika
buku yang saya baca lima puluh
Saya menjadi lebih
paham dan tidak merasa perlu bersikap seperti itu
Disarikan
Dari Buku Karya - Karya Buya Hamka
1.
Ayahku
2.
Kenangan
– Kenangan Hidup
3.
Lembaga
Hidup
4.
Majalah
Bulanan Hidayatullah
0 Response to "PETUAH-PETUAH BUYA HAMKA “Mereguk Hikmah”"
Post a Comment