PETUAH-PETUAH BUYA HAMKA “Mereguk Hikmah”

1.     Bahagia engkau kawanku
Apabila telah sampai apa yang dituju

2.     Mengapa engkau menangis
Bukankah engkau girang
Kuatkan hatimu
Lulur tangismu
Ambil kembali penamu

3.     Hidup yang dijalani si Amat
Tidak dapat dipindahkan menjadi hidup yang dijalani si Ali
Dan hidup yang dijalani si Ali
Tidak dapat dipindahkan kepada si Amat

4.     Kebenaran itu menang terus
Tidak pernah kalah

5.     Teruskan perjuangan, tetapi jangan disesali
Apa yang didapati belum memuaskan

6.     Bukit tinggi boleh didaki
Lurah dalam berkala-kala
Penat kaki boleh berhenti
Berat beban siapa bawa

7.     Orang padang mandi ke gurun
Mandi berliman buah pala
Hari petang matahari turun
Dagang berurai air mata

8.     Pantun itu membentuk budi
Memperkaya bahasa dan memperhalus rasa

9.     Mulut tabuh bisa disumbat
Mulut manusia tidak 

10.            Dimana-mana hendaklah kebenaran tetap ditegakkan


11.            Janganlah engkau banyak bertanya
Apakah sebab jadi begini
Sama kehendak dari TuhanMu
Didalam takdir sudahlah tentu

12.            Ketahuilah olehmu bahwa selama kita masih hidup
Kita senantiasa akan mendapat ujian
Dengan yang baik atau yang jahat
Dengan kemudahan ataupun kesulitan

13.            Barangsiapa  yang lari dari medan perjuangan
Tidaklah dia akan terlepas dari apa yang ditakdirkan Tuhan

14.            Kemana kita akan lari ?
Padahal disetiap sudut dari kehidupan
Takdir Ilahi senantiasa menunggu kita

15.            Memegang dan mempertahankan pendirian dan keyakinan
Tidaklah selalu membawa bahaya
Bahkan asal kita tetap tawakal kepada Tuhan
Bukan bahaya yang akan menimpa tetapi mungkin menguntungkan
Janganlah hanya mengingat bahaya tetapi ingat pula akan keuntungan itu

16.            Walaupun tuan – tuan Raja sekalipun
Janganlah tuan – tuan hendak memegahkan  diri dihadapan Allah SWT.
Janganlah tuan – tuan takabur sesama makhluk
Dari tanah asal tuan-tuan dan ke dalam tanah tuan – tuan akan kembali

17.            Janganlah yang merasa kuat
Hendak selalu menindas kepada yang lemah
Walaupun cacing itu sangat lemah
Kalau dia dipijak, dia mesti menggeleong juga

18.            Imam yang sejati, tidak ada tempatnya takut melainkan Allah
Walaupun disana ada pedang yang tajam, disini menunggu leher yang genting

19.            Tetaplah menegakkan agama Islam
Berpeganglah teguh dengan Qur’an dan sunnah

20.            Pikir pelita hati, janji padang kata-kata

21.            Selama nyawa masih di kandung badan
Dan di bumi yang mana juapun
Saya akan tetap berjuang menegakkan agama

22.            Ayat Tuhan adalah kebenaran
Yang siapa saja pun harus tunduk
Walaupun ada pangkat yang dijabatnya

23.            Kematian adalah menurut adres yang telah diatur lebih dahulu
Walaupun kemana kita melarikan diri
Kalau adres tepat kepada diri kita tidaklah dapat kita elakkan
Tetapi kalau adres bukan kepada kita
Walaupun jatuh didekat kita
Belumlah kita akan mati

24.            Jangan terlalu mewah
Kalau hidup pemimpin terlalu mewah
Segan rakyat mendekati

25.            Dimana saja manusia akan mati
Tidak ada kelebihan dan keutamaan
Mati di kampung atau mati di rantau
Yang penting adalah suatu perkara
Yaitu adalah tempat-tempat kita dikuburkan itu
Sudi menerima kita karena kita yang shaleh

26.            Bukit tinggi boleh didaki
Lurah dalam berkala-kala
Penat kaki boleh berhenti
Berat beban siapa membawa

27.            Berani karena benar
Takut karena salah

28.            Hendaklah engkau menolong orang yang sengsara

29.            Akan selamatlah suatu bangsa
Kalau orangtuanya dan guru-guru mengenal jiwa anak-anak

30.            Senantiasa yang mendorong untuk maju
Ialah bakat percaya kepada diri sendiri

31.            Bebankulah sarat
Tetapi cinta negara lebih berat
Biar kaki tinggal sekerat
Aku lanjutkan juga biar larat

32.            Hidup itu tidaklah lama, jika diingat sebelum kita lahir
Dunia telah berusia miliar tahun dan jika mati,
Dunia akan tinggal miliar tahun pula
Nilai hidup yang hanya sekejap itu
Haruslah kita sendiri yang mengisinya

33.            Bila engkau masuk ke dalam tepat yang bukan tempatmu
Engkau kelak akan keluar kembali dengan penuh rasa sesal
Sedang umur yang dilalui tidak dapat dipulangkan lagi

34.            Perluas dadamu, perlapang hatimu, pandang alam dari segala seginya
Engkau ulurkan kedalam hatimu apa yang dirasai orang lain
dan Engkau tambahkan ilmumu
Di waktu seperti itu akan berfaedah agamamu
Bagi dirimu dan bagi orang lain
Di waktu semacam itu Engkau bercahaya dan memberi cahaya

35.            Kebebasan bukanlah karena keturunan
Kebesaran bukanlah karena ilmu
Meskipun keturunan dan ilmu boleh menjadi alat

36.            Untuk menempuh kebesaran
Kebesaran adalah kesanggupan seseorang mengetahui kesulitan zamannya

37.            Cita terletak di puncak gunung
Jalan ke gunung berlurah berbukit di tengah sawah
Jangan termenung lanjutkan juga betapapun sulit

38.            Kalau harga gadis-gadis itu telah murah
Dan dia telah menonjolkan dirinya
Keindahan syair percintaan merosotlah
Perlu apa khayal-hayalan, membuang waktu
Padahal mendapatkannya tiada sukar

39.            Walaupun musnah harta benda
Harga diri janganlah jatuh

40.            Hanya dua tempat bertanya
Pertama Tuhan
Kedua hati sendiri



41.            Jika hartamu sudah tak ada
Belum engkau bernama rugi
Jika berani tak ada lagi
Separuh kekayaan porak poranda

42.            Jikalau jatuh martabat diri
Musnah segala apa yang ada

43.            Jikalau dasar budimu culas
Tidaklah berubah karena pangkat
Bertambah tinggi jenjang ditingkat
Perangai asal bertambah jelas

44.            Hanya sekali singgah ke alam
Sesudah mati tak balik lagi
Setelah tidur di kubur kelam
Baru orang tahu siapa diri

45.            Apalah gunanya di dalam mengamalkan suatu perbuatan yang dirasa suci
Meminta orang lain supaya memperhatikan

46.            Pergerakan yang mengabaikan rumah tangga
Tak ubahnya dengan menghasta kain sarung
berputar-putar tetapi disana kesana juga.
Kembalilah kerumah, perbaiki rumah tangga

47.            Apabila suatu ilmu hendak dituntut
Hendaklah dimulai dari pangkalnya
Supaya sampai dengan teratur kepada akhirnya

48.            Jangan lupa menyimpan buku catatan
Buah renungan yang tiba-tiba
Dan ilham yang menjelma bedah ingatan yang tidak disangka
Sungguh sangat mahal harganya
Sukar dapatnya, lekas-lekaslah tangkap dan tulis dibuku catatan
Melalaikan barang demikian adalah kerugian yang paling besar

49.            Kesabaran dan ketetapan hati itu yang amat perlu dalam perjuangan menuntut ilmu

50.            Meskipun telah pandai, telah pintar dan otak terang
Janganlah berfikir hendak mengalahkan guru



51.            Tanda gading ialah retak
Tanda manusia ialah terdapat kesalahan padanya
Jangan malu bertanya di waktu ragu

52.            Halaman dan pekarangan sekolah adalah tempat melatih budi

53.            Karena akal budi adalah laksana berlian yang baru keluar dari tambang
Masih kotor dan belum berkilat
Adalah guru yang menjadi tukang gosok dan membersihkannya
Sehingga menjadi berlian yang berharga

54.            Guru-guru yang oleh segala agama diwajibkan menghormatinya
Karena dialah tiang sebenarnya dari bangunan suatu bangsa

55.            Kalau adalah di dunia ini suatu pengorbanan
Kejujuran dan kelapangan hati
Satu diantaranya adalah pekerjaan guru
56.            Kalau aku telah sanggup menyelidiki diri sendiri
Tandanya aku tidak dibentuk oleh adabku sendiri

57.            Bersikaplah terus terang dan jujur

58.            Janganlah menunjukkan sembarang ilmu atau adab
Kalau tidak pada tempat dan waktunya
Supaya tidak menjemukkan

59.            Memberi pengajaran sopan santun hendaklah
Dilakukan dengan keadaan dan tingkatan murid dan otak anak

60.            Biasakan duduk sendiri, bermenung dan tafakur











61.            Jangan terlalu ingin menjadi yang terkemuka

62.            Kalau engkau dimuliakan orang,
Hendaklah rendahkan diri

63.            Jangan lekas marah
Hendaklah hormati diri sendiri

64.            Siapa yang dapat menahan marahnya
Dia akan dapat kemuliaan yang banyak

65.            Jangan duduk bersama orang yang suka berbicara cabul

66.            Kalau iman orang tua sendiri lemah
Anaknya diserahkan kepada sekolah
Sementara di sekolah hanya pengajaran, bukan pendidikan
Kalaupun ada pendidikan, hanyalah pendidikan yang salah
Pendidikan yang menghilangkan pribadi

67.            Hidup itu tidaklah akan berarti
Kalau tidak dengan gerak, usaha kerja, takbir dan baik kelakuan
Supaya tercapai ilmu, rizki, kesenangan pikiran dan kemuliaan

68.            Berani hidup jauh mulia dari berani mati
Agar jangan menyerah saja kepada orang lain

69.            Hujan emas di negeri orang
Hujan batu di negeri sendiri
Namun negeri sendiri teringat jua

70.            Cinta tanah air adalah perasaan halus dan dalam dihati manusia
Bahkan cinta tanah air itu timbul dari iman yang sejati







71.            Cinta tanah air menimbulkan riwayat-riwayat besar
Menimbulkan pikiran-pikiran mulia dan syair yang indah-indah

72.            Cinta sejati tidak meminta balas jasa

73.            Didalam mencintai tanah air
Salahlah kalau orang meminta balas jasa
Sebab tanah air yang berjasa kepada kita
Bukan kita yang berjasa kepadanya
Bukankah diatas persadanya kita telah dianugerahi hidup ?!

74.            Bila cinta tanah air telah mendalam
Meski dalam kepapaan dan penderitaan, badan berasa dalam syurga juga
Hanya dapat dirasakan, tidak dapat dikatakan
75.            Umur sebutan itu lebih panjang daripada umur manusia
Umur batu nisan lebih panjang dari umur badan

76.            Hidup bukanlah buat berpesta atau meratap
Hidup adalah buat bekerja
77.            Manusia tidak mendapat haisl daripada cucur keringat orang lain
Tapi dari cucur keringatnya sendiri

78.            Agama adalah penuntun akal
Memberi petunjuk jalan yang lurus
Agama jadi pimpinan untuk mencapai kenaikan tingkat akal

79.            Berfikir satu saat, lebih besar harganya dari beribadat satu tahun

80.            Yang bernama hidup bukanlah nafas yang turun – naik
Karena tidak sedikit orang yang nafasnya turun – naik
Tetapi dia mati
Dan tidak sedikit orang yang nafasnya sudah berhenti turun – naik
Tetapi masih hidup lantaran akalnya





81.            Kitab ajaran Allah ada dua
Pertama kitab yang tertulis
Kedua yaitu alam yang terbentang dihadapan kita
Yang dapat kita baca dengan tenang, ketika pikiran bersih
Disana banyak sekali pelajaran-pelajaran yang ajaib

82.            Dengan akal pikira itulah mencari Tuhan

83.            Seorang manusia mempunyai kesempatan surut
Kepada kebenaran didalam masa yang pendek
Yakni jika keturunan yang datang dibelakang
Mengambil iktisar dari nenek moyangnya yang dahulu

84.            Kesalahan kehidupan modern sekarang ini
Ialah karena terpisahnya antara kebendaan dengan kejiwaan
Ilmu sudah sangat maju, tetapi tidak dikenal lagi kemana tujuannya

85.            Supaya dunia ini senantiasa menuju kepada kesempurnaan
Hendaklah segala kebendaan disertai hidup kejiwaan

86.            Ketika berjuang memajukan hidup lahir dengan perniagaan pengembaraan
Jika terdengar seruan Tuhan segera datang kesana

87.            Menguatkan rohani dengan mendekatkan diri kepada Tuhan dan kehidupan akhirat
Tidak berarti meninggalkan dunia, tetapi memberi tuntunan

88.            Orang boleh jadi presiden, jurnalis, politisi, pengusaha
Penyelidik berbagai ilmu, jadi tani atau tukang rumput
Tetapi hadapkan itu semua mencari ridho Allah SWT

89.            Apalah arti hidupku dan hidup tuan sebagai manusia
Atau sebagai bangsa kalau tidak ada cita-cita besar

90.            Apalah arti hidup yang kurang dari sekejap mata ini
sebelum kita lahir, umur dunia telah beribu tahun
Dan kalau kita mati duniapun akan tinggal beribu-ribu tahun lagi
Kecuali memasukan pikiran-pikiran besar kepada dunia



91.            Ketika buku yang saya baca baru lima buah
Saya cepat sekali menyimpulkan satu hal mengenai agama dan emosi
Tapi ketika buku yang saya baca lima puluh
Saya menjadi lebih paham dan tidak merasa perlu bersikap seperti itu


Disarikan Dari Buku Karya - Karya Buya Hamka

1.    Ayahku
2.    Kenangan – Kenangan Hidup
3.    Lembaga Hidup
4.    Majalah Bulanan Hidayatullah

0 Response to "PETUAH-PETUAH BUYA HAMKA “Mereguk Hikmah”"

Post a Comment