Merenung di Pondok zikir Ramadhan dalam Peradaban yang Oleng

Ketika matahari tenggelam
Senja pun tiba
Ketika matahari mulai menerangi bumi
Disuatu hari yang indah
Diiringi dengan berkokoknya ayam dan kicauan burung
Aku mengunjungi-Mu Tuhan
Di waktu ini Ramadhan

Dalam Dzikir panjang
Diantara malam-malam yang pedih
Dalam tafakur  Dalam iqra’
Dalam sabar berjuang. Dalam syukur
Didalam usia yang panjang.
Didalam kesehatan
Suatu nikmat yang tak terbilang
Aku mengunjungi-Mu Tuhan.
Aku sambangi sajadah-Mu
Yang berasesoris pohon-pohon kian besar,
Berseling rumput-rumput segar
Dan bunga-bunga yang bertebaran
Mewangi disepanjang sajadah ruku sujudku.

Aku mengunjungi-Mu Tuhan
Didalam sejarah perdaban umat
Sajadah kugelar seluas bumi ini
Dengan kutub Utara dan Selatan sebagai batasnya
Berseling green land, gurun bobi dan sahara Afrika
Aku mengunjungi Tuhan, didepan mata dunia

Tuhan betapa hidup
Alangkah penuh syukurnya
Setelah lama aku mengkufurinya
Sebab tersesat jalan mengikuti barat
Tiada tahu segala petuah
Langkah dan hikmah di balik bilur-bilur deraan derita
Dan perjuangan yang panjang .
Aku mengunjungimu Tuhan

Tuhan
Betapa indah engkau hamparkan alam di negeri kami
Berseling gunung-gunung dan bukit-bukit yang menyembul langit
Jutaaan pohon yang melimpah
Tanaman obat dan tanaman hias
Tanaman bunga-bunga yang wangi dan menyejukkan hati
Segala tanaman tidak hanya memperindah
Tapi sekaligus mendebarkan hidupku

Rinduku padamu Tuhan.
Dan disuatu senja hingga malam yang indah ini
Bulan Ramadhan yang berkah ini
Aku mengunjungimu dengan rasa kecilku Tuhan

Inilah rasa Ramadhan dimana Peradaban yang terbangkitkan
Setelah sebelas bulan aku kembara
Di dalam panas terik udara dan kesibukan dunia.
Sesat budaya sesat segala
Berkabut dan berasap salah dan dosa
Ramadhan Terimakasih engkau datang
Dalam bayang-bayang lapar umat

Disaat datang
Berpuluh hari dalam dzikir dan Tafakur
Dalam naungan Rahman dan rahimmu Tuhan

Dan diwaktu malam tiba
Dan dalam Dzikir dan shalat lail
Aku renungi jalan hidupku sendiri
Dari mana asal engkau.
Akan kemana engkau pergi.
Akan pulang kemana engkau
Hai musafir kelam dalam peradaban buta
Kembalilah ke Istana Dzikir-Mu Yang sejati
Illahi anta Maksudi, wa ridhoka mathlubi.
Aku Hilang dalam samudra Dzikirku
Didalam peradaban ramadhan-Mu

Dibacakan di kediaman DR. Arif Satria, Taman Yasmin

28 Juli 2013

0 Response to "Merenung di Pondok zikir Ramadhan dalam Peradaban yang Oleng"

Post a Comment