Berkaca Pada Ramadhan

Walau ramadhan ini suci,
Tetapi masih ada orang yang mengotorinya.
Mengotori Nabi, mengotori Diri dan mengotori agamanya sendiri
Yaitu mengotori dengan perilaku korupsi.

Lihatlah dibulan suci ini, ada orang yang bernama nabi
Tapi menjadi bintang mekelar korupsi.
Negeri yang telah dililit akar korupsi
Masuk kesendi-sendi didalam negeri.

Bahkan juara dunia sebagai ladang subur para koruptor,
Sejajar dengan gabon, kosoro, dan solomon island
Makhluk dan negara apa pula itu.

Saudaraku Yang mengaku beriman dan bertaqwa
Bukankah golongan kita
Adalah manusia yang percaya penuh bahwa
Kebahagiaan mutlak dan abadi adalah negeri akhirat.   

Tetapi mengapa banyak diantara kita
Ingin agar segala amal perbuatan seumuanya dan segalanya
Dibayar di dunia, segera terwujud
Di dalam benda-benda bergerak dan tidak bergerak.

Rumah inginnya seperti istana,
Menyundul langit pula.
Tempat tidur dan kasurya selaras dengan lapangan sepak bola.
Kendaraan banyak dan murah mengkilap
Dan berjajar seperti showroom.

Suka pamer istri banyak,
Dengan berbagai sorot mata aneka warna,
Yang membuat orang berdecak kagum dan ingin sepertinya.
Sementara si pemiliknya lemas, rapuh kehabisan energi hidup.

Belum lagi perhiasan serba mahal berlapis emas.
Baju, sepatu, dasi, ikat pinggang, semuanya impor luar negeri.
Segala amal hidup ingin semua dibayar
Dengan dunia tanpa ketulusan berbuat.
Tiada pelaut ulung lahir dari lautan tenang.
Tiada hidup dimulai tanpa ujian-ujian yang terjal.
Tiada arung jeram tanpa likuan-likuan seram,
Cerukan-cerukan dan bebatuan cadas serta tajam.

Agar tahan lapar dan haus didunia,
Agar terbiasa berpuasa didalam derita dan sukacita didalam hidupnya.
Tahan lapar, tahan haus, dan tahan kekuasaaan.
Tahan emosi, dan tahan diri.

Puasa diri dari kemewahan,
Puasa dari kelilingan wanita-wanita cantik pengumbar aroma.
Waktu puasa pasti ada akhirnya.
Dan ketika malam setelah turun, seorang koruptor berdo’a

“ ya Allah hamba datang hari ini membawa hasil korupsi, hamba ingin taubat dibulan suci ini. Ya Allah.. Daging ditubuh hamba banyak tumbuh dari barang-barang haram dan hamba ingin taubat sebelum kematian datang. Hamba ingin berakhir dengan Khusnul Khotimah. Ya Rabbi Hamba ingin taubat dan ingin putih suci kembali.  Ya rabbi Terimalah segenggam taubat kami, barangkali ini Ramadhan terakhir kami. Jangan jadikan timbangan amal baik kami lebih ringan dari dosa yang kami pinggul sebelum hamba mati.  Ya Rabbi Berkenankah engkau membimbing hamba kejalan terbaikmu” 

0 Response to "Berkaca Pada Ramadhan"

Post a Comment