Dihari-hari
i’tikaf ini
Hamba
mengenang kembali perjalanan panjang kehidupan
Hamba
sendiri.
Dari
Ramadhan ke Ramadhan
Hamba
malu untuk menghitungnya
Bersebab
kesalahan lebih banyak
Dari
pada nikmat hidup yang telah begitu banyak
Engkau
beri ya Robbi.
Ya
Allah.
Sungguh
bersyukur hamba
Engkau
takdirkan menjadi orang beriman
Ditengah
begitu banyak orang tak tau jalan pulang.
Ya
Allah
Hari-hari i’tikaf engkau gelar
Untuk
merenung sejenak tentang nikmat-nikmat hidup.
Nikmat
bernafas. Nikmat memandang.
Nikmat
berjalan, nikmat berbicara,
Nikmat
memegang dan menggenggam
Sunggung
alangkah besar nikmat dan karunia-Mu ya Rabbi..
Hari-hari
i’tikaf adalah merenungi hidup,
Merenungi
segala kejadian,
Merenungi
dunia yang makin tua
Merenungi
hidup di kahir zaman,
Merenungi
dunia yang penuh dengan segala problematika.
Ya
Allah
Ini
hamba yang fakir di malam-malam akhir Ramadhan,
Berdo’a
didalam perenungan tentang hakikat hidup dan kehidupan.
Ya
Allah
Berkenan
engkau jadikan liang kubur hamba
Laksana
ruang-ruang masjid tempat hamba beribadah dialam dunia.
Tenang,
terang, penuh kelapangan
Dan
jangan engkau jadikan lubang kubur kami ya Rabbi
Kuburan
yang sesat penuh siksa dalam gelap pengap
Sempit
seperti penjara.
I’tikaf
hidup menyenangkan hamba pada karya dzikir dan do’a.
I’tikaf
mati hamba terlentang sambil sedekap
Ditempat
sepi gelap dan sunyi,
Sungguh
tadabur hidup di hari-hari i’tikaf
Mengingatkan
hamba pada jalan panjang kematian.
Di
dalam i’tikaf hamba membanyangkan jasad hamba sendiri
Terkubur
terbenam dan menyatu kembali kedalam tanah.
Dan
terlihatlah segala amalan kita,
Amal
baik berupa cahaya terang nan wangi
Atau
amal buruk didalam kegelapan dan kebusukan
Ya
Allah
Berkenan
engkau maafkan hamba,
Engkau
beri kasih sayang hamba. Wala aqwa ‘ala naril jahimi.
Dibacakan
di kediaman Prof. Bunasor Sanim
0 Response to "Bertadabbur Kepada Hidup"
Post a Comment