Dahulu
orangtua kita berangkat ke ladang,
Pagi
sebelum matahari terbit
Dan
kembali sebelum matahari terbenam.
Hidup
penuh dengan suasana keindahan,
Kedamaian
dan kesederhanaan.
Bahkan
terkadang memiliki anak banyak
Tetapi
rumah dan halaman luas
Sebagai
ruang publik rekreasi anak-anak.
Mencangkul
sawah dan kebun
Diusahakan
sendiri untuk hidup sehari-hari.
“Dari
hasil buah tanganku aku makan”
begitu
dihati orangtua ia bergumam.
Dan
sekarang kita lihat.
Banyak
orang berangkat kerja subuh
Berpacu
dengan waktu dan debu-debu.
Tiba
dirumah tengah malam,
Panas
dan hujan dalam sejuta kerja keras ia jalani
Melebihi
dua kali dari orangtua yang dahulu kala.
Tetapi
rumah dan tanah yang dia miliki sekedarnya
Tidak
seperti orang kaya.
Stress
dan sibuk oleh deadline waktu
Telah
menjadi makanan hariannya.
Punya
anak banyak takut kekurangan,
Semua
serba di asuransikan.
Rumah
takut terbakar, mobil takut hilang,
Badan
takut sakit, hingga kuku dan jari-jari yang lentik
Di asuransikan.
Orangtua
dahulu hidup tanpa alat bantu.
Sementara
dia sekarang semua serba alat bantu.
Mesin
cuci, kompor gas, kendaraan, HP, email, FB, BB, dsb.
Seharusnya
menjadi kaya menjadikan mudah
Tetapi
malah tambah repot.
Sehingga
tidak dapat menikmati hidup tenang
Damai
dan penuh keindahan.
Sampai-sampai
dalam bekerja
Lupa
akan pemeliharaan kesehatan,
Padahal
ketika sakit uang yang dihasilkannya
Tiada
cukup untuk menebus kesehatannya.
Apakah
nikmat hidup itu telah hilang.
Aku
renungi nuzul-Mu ya Rahman yakni Al-Qur’an.
Merenung
disertai berdesirnya darah dan gelombang cahaya.
Didalam
sendi-sendi dan pembuluh darahku.
Aku
renungi kehidupanku di dunia yang fana ini.
Dari
mana aku berasal dan akan kemana aku kembali.
Yang
aku ingat tanah dingin merah lembab dan sepi.
Aku
akhirkan gelombang maha rahman dan rahimmu
Didalam
biduk kemudi didalam jiwaku,
Didalamnya
aku mendengar sebuah firmanmu
2013
0 Response to "Old and New"
Post a Comment