Sang Pejuang Habiebie

Akhirnya masyarakat tanah air mangakui juga
Peran besar bapak sebagai tokoh,
Menembus batas dalam film “Habibie Ainun”.
Akhirnya rakyat Indonesia membayar
Segala idealisme pengorbanan mu
Melalui jendela sebuah buku,
Sebuah cerita yang setiap lembar demi lambarnya
Ditulis dengan titik-titik air mata.

Jutaan orang telah menyaksikan
Kisah drama romantis di layar lebar,
Mengalahkan film lagendaris dengan bintang Nike Ardila.

Kebaikan berbalas kebaikan,
Ketulusan berbalas dengan ketulusan,
Kesabaran berpuluh – puluh tahun
Berbuah manis di hari kemudian.


Pengorbanan dan pengabdian dirimu kepada bangsa
Sungguh sangat luar biasa
Sejak menjadi mahasiswa teknologi di Jerman
Dan kembali kenegeri sendiri.
Dirimu telah menjadi manusia akhirat diatas dunia,
Dengan segalaDan kini dahaga.

Biarlah wajah-wajah negeri
Berubah-ubah bak pelangi, hanya satu pesanku
“janganlah ingin cepat-cepat menyusul Ibu, karna umat sangat butuh bantuan pemikiran dan pencerahanmu”


Dibacakan di kediaman BJ Habibi. Ramadhan 1434 H / Juli 2013. Patra Kuningan Jakarta.

Urip Tanpo Palupi

Apakah makna Ramadhan bagimu saudaraku,
Ditengah hidup rakyat yang terjepit dengan beban berat.

Apakah engkau masih ingat saudaraku
Sebuah syair Ronggo Warsito Pujangga Kerajaan Mataram
Di tahun 1860-an abad ke 18.

“ Mangkya darajatining kawuryan suryaruri, keadaan negeri saat ini terlihat semakin merosot saja, rurah pang rehing ukara rusak karana tonpo palupi, tatanan dan aturan kisah tiada yang dapat dicontoh”

Saudaraku
Apa yang bisa kita contoh dari sifat Nabi-Nabi.
Bahkan kini sifat Nabi hanya tinggal tiga Saja
Yaitu Shiddiq, Tablig, dan Amanah
Karena Fathonah telah diambil KPK
Bumi gonjang-ganjing,
Langit kelap-kelip melihat dunia tanpa keindahan lagi.
Orang telah menjadi robot dan budak tanpa rohani,
Akhlak, cinta, dan keindahan.

Orang di akhir zaman telah berubah
Menjadi kromosom dan primata
Sebab yang ia kejar adalah kesenangan saja
Dan sangat berkesan bondo Bondo Bondo

Sedang memberi makanan atas hidup telah layu,
Lenyap entah kemana.
Barangkali ditelan cakrawala amblas ke perut bumi.
“saiki jamane jaman edan, yen ora edan ora keduman”
Seuntung-untunge wong edan masihlah lebih untung wong eling lan was podo.


Dan belajarlah pada sekolah Ramadhan saudaraku,
Sebagai bulan ilmu kehidupan
Yang pemiliknya bergelar orang alim
Yang pakaiannya adalah amal sholeh.


Dia menjadi cahaya agung bagi seluruh kebajikannya,
Dia menjadi penerang atas kegelepan dunia,
Dia menjadi cahaya atas hidup
Dan penghapus atas dosa dan kesalahan.
Menuju gerbang indah, gerbang pengampunan
Oh ramadhan
Aku madeg pandito

Dibacakan Di kediaman Prof.Rokhmin Dahuri, M.Sc
Di Villa Indah Pajajaran 2013

Apakah Ini Ramadhan Terakhirku

Selamat datang berbuka
Dalam pisang hijau bugis yang ceria
Dalam ketimus dan gemblong yang bersahabat
Dalam kurma california yang mewah
Rawon kluek  Jawa Timur yang pekat
Anggur dan blewah yang bercahaya bagi mata
Pada kapal-kapal layar kecil dan besar
Aku mengarungi kehidupan

Ya Tuhan
Aku datang menyungkur mohon ampun
Laksana kuda-kuda yang  berlari
Menuju pulau bahagia
Laksana angsa-angsa terbang
Mencari pohon perlindungan
Engkau Ya Allah pelindung kami
Anta maulana dalam hidup dan mati

Ajaklah aku kedalam telaga bening
Penuh dengan bunga di hatimu ya Ramadhan.
Agar aku dapat melihat bagaimana angsa-angsa harimu bermain
Dengan bunga-bunga air yang indah, 
Sebagai bukti akulah sahabat
Dan engkau teman dekat dalam Ramadhan yang ditunggu.
Angsa adalah emosimu yang telah kau tundukkan,
Desiran air adalah batinmu yang kaya akan pengalaman hidup.

Hatiku bukanlah milikmu,
Dia telah fana didalam hakikat dan ma’rifat.
Rabbi . Anta maksudii
Waridhoka mathlubii
Anta mahabbataka
Wa ma’rifataka.

Ramadhan engkau datang berulang-ulang
Selama aku di alam kehidupan.
Engkau datang sebagai mesin pembersih,
Mencuci segala dosa dan noda.
Alangkah beruntung orang yang senantiasa membersihkan diri
Dan sungguh merugi orang-orang yang mengotori.

Bentangkahlah hidupmu sejauh-jauhnya
Agar dirimu dapat mengerti kearifan dan hikmah
Kehidupan dari setiap perjuangan anak panah.
Bukalah hidup dengan nurani dan kata batin.
Sebelum mata dan telingamu lesu manatap liang lahad.

Sebab jiwa yang telah mati
Tak akan dapat membedakan kebenaran dan kesalahan,
Sekalipun kebenaran dan kesalahan
Telah terlihat dengan kasap mata dan terang benderang.
Hidupkan jiwa, senantiasa jiwa yang hidup
Yang akan selalu membangunkan hidupmu
Didalam ketulusan perbuatan
Dan membangun segenap karya fikir dan keindahan peran.
Mainkan peran yang telah Allah berikan diatas hidupmu itu
Dengan sebaik-baiknya.
Seperti air, danau, angsa dan bunga mekar didalam jiwa.

Dan kemana saja hidup kita kan dibawa,
Bawalah senantiasa jiwa bening dan hati nurani juga ketulusanya.
Ramadhan aku datang. Dan Inikah Ramadhan terakhirku??

2013 

Bentang Cakrawala Masihkah Terlihat Di Ufuk Timur dan Barat

Masihkan dari kita esok pagi melihat ufuk timur,
Di kala matahari terbit ?
Tentu hanya Tuhan yang tahu
Hari-hari yang kita lalui diatas dunia ini,
Kian membuat kita merenung tentang arti
Dan makna sesungguhnya dari kehidupan.

Bahwa jalan kita kian berat dan menanjak
Sebab umur terus menguras segala kekuatan
Mata kian lamur, gigi kendur, uban bertabur
Masihkan esok senja

Diri kita melihat ufuk barat disaat lembayung senja
Hanya Tuhan yang tahu

Tetapi diri ini masih merasa muda saja.
Hanya rambut sedikit berbeda dua warna kalian tidak sadar,
Bahkan dicat dan pura-pura masih muda saja.
Satu demi satu senior-senior atau kawan-kawan sendiri pergi
Dan waktu tak akan dapat diputar kembali.
Ternyata hidup bukanlah bola berputar yang tiada ujung pangkalnya.
Tetapi Hidup adalah sajadah yang tergelar.


Di ayunan tiada daya dan upaya
Hingga digoyang diatas keranda
Henuju lubang lembab gelab dan keabadian
Yaitu lubang-lubang kematian.

Dari waktu kewaktu hidup bergerak,
 Dari Ramadhan ke Ramadhan kita berjalan
Sehingga kita bertambah usia.
Apakah ini puasa terakhir kita,
Dan tahun depan tiada lagi. Barangkali iya .
Hanya Tuhan yang tahu.

Setelah kyai Tubagus Hasan Basri,
Pak Hasamul Arifin Pergi.
Pak Amris dan pak Syafri pun pergi
Siapa lagi Siapa lagi
Bahkan kenang-kenangan tentang senior kita itu
Tak sempat kita bukukan, lenyap begitu saja.

Dari Ramadhan ke Ramadhan kita menambah umur,
Dari puasa ke puasa kita berjumpa,
Kita absen saudara-saudara kita yang tersisa.
Adakah ini Ramadhan terakhir kita ?
Semakin akau merangkul hidup,
Semakin aku masuk kedalam putaran hidup,
Ialah sebagai puasaran besar menenggelamkan orang satu persatu.


Adakah besok kita melihat cakrawala
Atau jasad kita tertelungkup kedalam tanah
Sehingga diri kita tak dapat lagi memandang batas cakrawala
Hanya Tuhan yang tahu.

Dibacakan di kediaman Prof. Herry Suhardianto (rektor IPB).
12 Juli 2013

Wilayahnya Luas, Manusianya Kerdil

Inilah nasib masyarakat dan bangsaku. Kini setelah era Soekarno, Hatta, M.Natsir, Sahrir dan Agus Salim belum ada lah pemimpin yang tangguh, kuat dan percaya diri. Pembela ummat dan bangsa ini.

Kita tahu, semua orang memang ingin menjadi pemimpin. Tapi begitu ia memimpin, kepemimpinannya yakni berupa hasil - hasil usahanya, sebagian besar ia nikmati sendiri.

Memang ketika dahulu, waktu ia lapar jabatan dan lapar makanan ia idealis. Seolah - olah dialah yang akan menjadi orang besar, ternyata tidak. Hasil - hasil usahanya itu ia makan sendiri, seolah - olah orang tidak melihat dia. Dan seolah - olah ia tidak pernah dilihat oleh dua malaikat suci, kanan dan kiri.

Di kampung - kampung banyak kita temui pemimpin - pemimpin yang berjiwa kerdil, di masyarakat kota kita temui orang - orang yang merasa besar dan hobi menutup dirinya.

Lihatlah bangsa ini amat butuh pemimpin, bangsa ini kekurangan stok pemimpin yang handal. Bangsa ini kekurangan orang - orang yang bermutu tinggi. Dan bangsa ini amat butuh patriot - patriot sejati, pembawa panji - panji hidup sebagai seorang pembela ummat dan negeri ini.

Duhai dunia, kapan kebenaran kau munculkan, kapan pula orang - orang baik memimpin dunia ini. Kapan pula negeri besar ini dipimpin oleh orang - orang yang berjiwa dan berfikir besar. Pembela perut rakyat, bukan aset - aset rakyat masuk ke perut mereka sendiri.

Ada terigu ada taji, ada hidup ada mati. Ada bulan ada bintang, ada kebenaran di tengah rintangan. Ada bunga kenanga ada bunga matahari, tuhan tolong tumbuhkan ketenangan pada ini negeri.

Hai waktu, lahirkanlah orang - orang bermutu, bukan dari perutmu lahir orang - orang palsu yang senang keingkaran, yang sering menolak kebenaran.

Ada apa dunia ini. Seolah kelahiran Dajjal kian dekat. Hingga kehidupan dunia lahsana hidup di hari kiamat.

Tempat Curahan Hati Ummat

Pada tiap kali seseorang tiba di tepi Ka'bah, pasti ia terharu dan tak jarang mengeluarkan air mata. Lalu mengeluhkan segala asa di dada, merintih dan berdo'a. Mengharap sejuta rahmat tercurah dari Sang Maha Gagah, Allah Subhanahu Wata'ala.

Tiap kali seseorang memandangi Ka'bah, pasti dia akan berkata - kata baik terdengar ataupun tidak, atau sekedar menjadi suara hatinya saja. Pasti ia akan berbicara, seorah - olah ia hanya bicara empat mata saja, antara dirinya dan sang Ka'bah. Dan percakapan, pertemuan dan pertemanan dengan Ka'bah Baitullah itu, ia bawa hingga ke rumah. Hingga ketika ia tiba di negerinya, ia tidak akan pernah lupa, terkenang - kenang selamanya. Bahkan ia ingin kembali lagi dan ingin bertemu lagi.

Inilah yang di maksud dengan tempat curahan hati sanubari. Hati yang penuh sesak dengan segudang masalah, tiba - tiba di serahkan di muka Ka'bah. Dan Ka'bah menerima dengan hangat dan terbuka, sebesar dan sebanyak apapun masalah kita. Karena kita yakin, bahwa segala persoalan yang di keluhkan di muka Ka'bah pasti cepat di dengar oleh Sang Pemilik Rumah Suci itu.

Oleh karenanya, alangkah indah jika para alumni Mekkah, senantiasa bersedia menjadi tempat curahan hati ummat ketika ia kembali ke tanah airnya. Senantiasa ikut pula memikirkan nasib ummat, pendidikan ummat, perut ummat yang lapar. Pendeknya, para alumni Mekkah itu harusnya bersedia menjadi tambatan hati ummat dan pengikutnya. Ikut membahas problem dan ikut memikirkan jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi ummat ini. Inilah prototip pemimpin sejati, yang amat dirindu dan ditunggu - tunggu serta kita cari - cari.

Workaholic

Sudah lewat tengah malam, si tukang kayu itu tak mau berhenti juga bekerja. Mulutnya besar dan kerjanya juga besar. Itulah gaya orang Amerika.

Supriyanto namanya, menambah daftar orang - orang utara (Jawa) yang tekun dan ulet serta sabar menderita. Sungguh Indonesia butuh orang - orang yang gila kerja. Bekerja antara pagi hingga menjelang pagi lagi.

Sudah lewat tengah malam, si tukang kayu itu tak juga mau rebahan. Dia bergerak terus, seolah menyinggung rembulan yang diam di balik awan.

Tengah malam adalah waktu istirahat badan. Di balik itu ada ide dan kekuatan. Kekuatan malam yang memabukan setiap penjaganya, hingga ia sering lupa diri dan lupa usia.

Negeri kita membutuhkan Workaholic, yang dengan sabar dan terus menerus membangun ummat tiada habisnya. Tiada kata henti dalam bekerja, hingga ajal menjemput kita.

Negeri ini mengharapkan orang - orang yang ikhlas dalam berjuang. Tak kenal hidupnya sendiri senang atau susah, terus menerus menebar kebaikan. Kebaikan yang bagai angin, ada pada musim panas dan ada di musim yang dingin.

Negeri ini dan kita amat butuh orang - orang militan dan spartan. Kita butuh orang - orang yang rajin bekerja. Kita pun butuh ide - ide segar dari para pemuda. Kita butuh hidup yang lebih berdinamika. Kita butuh hidup yang seimbang antara pemikiran, keimanan, dan daya juang.

Sudah lewat tengah malam, si tukang kayu itu tak mau berhenti juga. Hal ini menjadi tanda bahwa, masih ada orang - orang yang optimis hidup di tengah keterpurukan bangsanya.

Masih Ada Waktu Lain Masih Ada Esok Lusa

Jangan terlalu sedih di saat kau tak berdaya. Jangan terlalu gelisah menghadapi dunia. Jangan berkhayal dengan menuruti hawa nafsu. Coba berzikir dan kuatkanlah imanmu.

Bukankah di masa depan dunia masih luas membentang. Masih banyak kesempatan - kesempatan yang akan kita lakukan. Di masa depan dunia masih besar. Masih banyak ide - ide kita yang cemerlang, yang masih bisa kita perdagangkan.

Jangan terlalu berduka, dengan apa - apa yang kini ada pada kita, jangan banyak mengeluh dengan segala keterbatasan. Ada masa lalu, ada masa kini. Pasti ada masa depan yang kian menanti.

Jangan tetap diam di tempat, buatlah gagasan dengan fikiran segar dan brilian. Gunakan akal dan konsep yang jitu, untuk hidup lebih bermutu. Masih ada jalan lain kawan. Masih ada pilihan akan datang. Masih ada harapan yang luas membentang.

Kita hidup, pasti kita punya harapan.

Karena harapanlah seorang ibu melahirkan dan membesarkan anak - anaknya. Karena harapanlah seorang bapak bekerja dan mendidik anak - anaknya. Karena harapanlah seorang guru mendidik anak - anak muridnya. Karena harapanlah para mujahid dan pejuang tak berhenti mengembangkan dirinya dan siap mati sebagai syuhada. Karena harapan seorang anak jatuh bangun mempertahankan kehidupannya.

Masih ada esok lusa, sebelum kiamat tiba. Harapan itu tidak akan pernah punah. Allah yang mendekatkan hati - hati manusia, hingga kau nanti akan memiliki teman setia. Hati rakyat dengan pejabat. Hati orang berharta dengan orang bersahaja. Mendekatlah hati dengan orang yang ingin berjuang, di manapun ia berada.

Lihatlah nasib kita di waktu yang lain. Jangan hari ini !

Terjerembab Di Pangkuan Dunia

Tiba - tiba kita berada di jalan yang penuh dengan simpangan. Lalu kita berhenti dan diam. Kita tidak tahu harus berbuat apa dan berjalan ke arah mana. Dan sekejap itu iblis datang kepada kita, tentu dengan berbagai tipu muslihatnya. Ketika kita menganggap hidup itu amat berat dan kita tidak dapat berusaha untuk keluar dari kuatnya jeratan dan lilitan itu. Maka sontak kita berujar ; "Ya Allah, berat benar cobaan yang kau pakaikan kepadaku, hingga aku tak sanggup lagi mengangkat kepalaku sendiri".

Ketika kebusukan dan kemunafikan menguasai ini dunia. Pilihan kita ada dua, diam lalu berhenti atau kita jalan terus tak peduli.

Ingatlah saudara, jika kita masuh hidup. Bukankah besok kita akan mati. Janganlah terlalu risau dengan hidup, siapa tahu besok kau tiada lagi. Sabar dan tabahlah. Bukankah sepanjang waktu umur kita di atas dunia ini terus di akan di uji.

Ujian akan membentuk kita. Dengan ujian juga, kita akan tahu siapa diri kita yang sebenarnya. Dengan ujian jalan yang berlumpur dan berbatu justru akan lebih terasa lezatnya jika kita menemui jalan yang berhotmix dan beraspal. Bukankah kecelakaan itu sering terjadi di jalan lurus bebas hambatan. Maka hati - hatilah dengan segala kesenangan, jika kau lupa nanti kau akan celaka.

Dan jika kau bertemu dengan simpangan hidup yang membingungkan. Diam dan berzikirlah lalu berfikir dan bertindaklah. Jangan sampai kau tertipu dengan dunia. Jangan sampai kau terjerembab karenanya.

"Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kita, siapakah yang paling banyak amalnya di atas dunia"(Al-Qur'an)

Mengenang Arti Sebuah Kepahlawanan Di Tengah Haus dan Lapar

Ku dengar suaramu
Di tengah pertempuran sengit dan heroik
Pada datar tanah lapang tandus memerah

Aku saksikan
Wajah -wajah pahlawan panas terbakar
Yang bernaung pada langit biru tua
Dengan segumpal awan kecil menghitam
Di sela - selanya

Pahlawan
Dalam lapar berpuasa
Aku mengenang jerih payahmu
Aku mengenang segala luka - luka itu
Aku mengenang segala pengorbananmu

Pahlawan
Dalam kondisi tak berdayanya badan
Aku melihat tajam matamu
Nanar menerawang hingga menembus
Keadaan zaman yang mendahului sang waktu

Pahlawan
Dalam lapar berpuasa
Kami mengenang di sertai genangan air di bola mata
Sebagai tanda hormatku pada segala jasa - jasamu itu

Jelang hari pahlawan,
November 2004

Kepada Dua Perwira Muda Penjaga Istana Batu Tulis

Hai kau tentara
Yang setia pada bangsa ini
Aku berpesan pada tiap langkahmu
Pada ayunan tanganmu
Pada ayunan hidup Indonesiaku

Ingatkanlah kembali haluan berfikir bangsa ini
Pada semangat bergelora Indonesia

Di sini di Istana Batu Tulis
Aku tulis lagi goretan sejarah
Pada sajak - sajak sarat makna
Sebagai tanda cintaku
Untukmu Indonesia

Dalam dekapan malam
Dalam tekanan dingin mencekam
Dalam kesepian di tengah keramaian kita bersua
Dalam tugas hidup menyongsong Indonesia
Yang lebih bermartabat, maju dan jaya

Hari ini aku titip pesan padamu
Hai dua tentaraku
Jagalah baik - baik Indonesia kita

Hing Puri
Bima Sakti
Ba'da Isya,
17 Agustus 2004

Pejuang Ummatmu

Kader dirimu menjadi dirimu
Dengan segala ciri khasmu

Latih dirimu
Dalam jatuh bangunnya menuntut ilmu
Biar badan berbilur - bilur dan berdebu
Tapi otak dan jiwa menyala
Oleh semangat dan emosi ingin maju

Biarlah lusuh itu rambutmu
Tapi otak di kepalamu bersinar laksana lampu

Didik diri bersungguh - sungguh
Agar nanti kau menjadi pelita bagi ummatmu

Jangan dengar ocehan orang
Sebab dia dapat memuja dan menghinakan

Lihatlah tanah dan bintang
Tanah sebagai simbol kesabaran dan ketabahan
Bintang sebagai simbol optimisme dan harapan

Latih dirimu menjadi pemimpin
Tak perlu risau dengan keadaan zaman
Sebab nanti kau sendiri yang merubahnya

Jangan kau malu banyak bertanya
Karena bertanya adalah ilmu jadi terbuka

Siapkan dirimu bersungguh - sungguh
Zaman akan segera datang menantimu

Dan jadilah kau pejuang
Pejuang yang setia dan teguh bagi bangsamu

Rabu,
13 November 2003

Gugatan Kaum Pemuda Kepada Kemerdekaan

Kami sudah mendengar
Hebatnya perjuangan nenek moyang
Tapi hari ini kami melihat bapak - bapak kami
Banyak yang hidup seenaknya
Yang penting perut mereka aman

Kami telah menelusuri jejak dan tapak - tapak
Perjuangan para penggerak kemerdekaan
Tapi kami telah telusuri pula
Hari ini
Kebanyakan dari pemimpin kita
Di segala lapangan
Tak memikirkan kami dan hari depan negeri

Kami jauh merenung
Soal hidup dan kehidupan
Kehidupan kami yang akan datang
Untuk adik - adik pengganti generasi

Diatas becak tua di depan Istana
Seorang pemuda menggugat
"Pada siag di suasana kemerdekaan ini
Kami mengingatkan engkau pemimpin
Jangan habiskan kekayaan negeri seenaknya
Jangan jual murah aset - aset negara semaunya
Hingga kami tak punya kesempatan
Memimpinnya"

Depan Istana Bogor,
Rabu Siang,
11 Agustus 2004

Pesan Kemerdekaan

Kesulitan hidup
Tidaklah menjadikan kita menjual
Kebebasan diri kita

Janganlah karena tawaran jabatal
Yang muluk - muluk setinggi langit
Menyebabkan kita kehilangan kemerdekaan

Jangan sampai kesulitan hidup yang berat
Lalu dengan mudahnya kita melupakan martabat kemanusiaan

Hidup yang berat
Hidup keras dan padat
Dalam problema negara dan masyarakat

Hidup yang penuh dengan irama perjuangan
Hidupkan dengan cahaya iman dan kemerdekaan

Bukankah lebih baik sendirian
Daripada menyerah pada nafsu kemunafikan

UIKA Bogor,
11 Agustus 2004

Pada Jiwa Kemerdekaan

Peringatan kemerdekaan
Yang hendak kau garap hari ini
Hendaknya bukan
Sekedar upacara - upacara seremonial saja

Peringatan itu haruslah menajdi bagian
Dari perenungan hidup
Haruslah menjadi bagian
Dari cita - cita kita sebagai anak bangsa
Untuk memberikan kontribusi
Pada negeri

Untuk kita segera lepas
Dari segala ketidak pastian
Hidup di negeri sendiri

Pada tiap - tiap kita menaikan bendera
Harusnya kita merenung
Sudah berapa orang kita merdekakan dari kelaparan
Sudah berapa puluh orang kita sekolahkan
Sudah berapa ratus orang rakyat kita beri perumahan
Sudah berapa juta orang kita beri pekerjaan

Dan sudah berapakan puluh juta orang dapat tersenyum
Kita bahagiakan

Bogor, Rabu siang
Agustus 2004

Bukan Mati Suri

Setiap Pejuang
Pasti banyak menghadapi rintangan

Setiap orang yang telah bergelar sebagai Pahlawan
Tentu ujian dan cobaan berat tak terelakan

Setiap ada pejuang
Di waktu itu pula lahir seorang pecundang

Adakah telah kau fhoto Copy
Jasa dan semangat Pahlawan tempo hari
Hingga hari ini ia mengilhami
Dan menjadi inspirasi besar bagi semangat hidup
Yang tengah kau titi

Ketika begitu banyak orang mati suri
Kita jadi semakin tahu mahalnya anugerah sehat
Dan harga sebuah kesadaran diri

Mengenang pejuang bukan hanya
Kita mengangkat foto tampangnya saja

Mengenang pejuang pada hakikatnya
Meniru suri tauladan riwayat besar langkah hidupnya
Agar generasi kita tak lagi kehilangan arah dan mati langkah
Apalagi jika selama hidupnya ia mati suri
Antara ada dan tiada
Dan ia tak pernah masuk dalam buku besar sejarah perubahan bangsa

Kamis,
5 Agustus 2004

Pahlawan Samar - Samar

Kita hampir tak mampu lagi
Mencari seorang pejuang
Mencari sosok pahlawan
Pada era ini zaman ini

Apalagi di tengah semak belukar manusia
Di tengah jutaan kepala
Di tengah kekotoran hidup sebagian besar umat manusia

Kita tak lagi dapat menyaksikan
Mana pejuang sungguhan
Dan mana orang - orang yang penuh kepalsuan

Hidup yang seba samar - samar
Menghasilkan peraturan yang juga samar - samar
Maka kualitas hidup pun samar - samar

Dunia yang begini ini harus di cermati dengan hati - hati
Dunia yang asal goblek ini
Harus di waspadai dengan hati dan fikiran yang jernih

Allahu akbar
Dunia yang gila
Menghasilkan apa
Kecuali malapetaka

1 November 2004

Kemerdekaan Yang Kau Bangun

Rasa Kemerdekaan yang kau hirup
Bukanlah turun dari langit

Nikmat kemerdekaan yang kau rasakan
Bukanlah hadiah gratis tanpa berkorban

Kemerdekaan yang kau muliakan
Bukanlah tiupan angin dari utara dan selatan

Nafas kemerdekaan hari ini adalah
Berasal dari nafas panjang para pejuang

Nikmat kemerdekaan yang hari ini kau hirup
Berasal dari tumpahan juta liter
Darah, Keringat dan air mata
Berasal dari pengorbanan nenek moyang
Yang tiada terkira - kira beratnya
Yang tiada bisa di kalkulasi dengan uang

Lalu apakah nikmat kemerdekaan yang telah kita raih itu
Harus kita buang dan serahkan lagi kepada para penjajah
Dengan lain model dan lain cara

Di dada kitalah terletak semua jawabannya

Sabtu,
17 Agustus 2003

Arti Kemerdekaan

Kemerdekaan bagi kami
Berarti :
Bebas bercita - cita
Bebas dari rasa takut

Kami cinta indonesia
Sebagaimana kami cinta kemerdekaan ini
Lebih cinta lagi,
Kami merdeka dari kemiskinan
Kami merdeka dari kebodohan
Kami merdeka dari kelaparan

Kami anak - anak negeri khatulistiwa
Adalah anak - anak rakyat jelata
Adalah anak - anak bangsa
Adalah anak - anak ibu pertiwi

Kami cinta pada pemimpin
Pemimpin yang setia pada janji

Merdeka Indonesiaku
Bebaskan kami dari belenggu

00.03
7 Juli 1998

Joeang

Berjuang
Tenggelamkan diri
Di tengah - tengah
Lahan uma terbentang

Berjuang
Jangan setengah - setengah
Berjuang di mana - mana

Jadi pejuang
Pantang menyerah
Meski onak dan duri
Mendarahkan telapak kaki

Terus berjuang
Hingga tercapai niat suci

Malam Jum'at 22.35
3 Agustus 2000

Merdeka !

Hari itu tepat pukul 10 pagi
Di bulan Ramadhan yang dimuliakan
Dua tokoh besasr memberi salam
Merdeka ! Merdeka ! Merdeka !

Lalu terdengarlah kalimat sakti
Bismillahirrahmanirrahim
"Proklamasi"
Menjalar ke segenap penjuru negeri
Ke pelosok - pelosok, lembah - lembah
Ngarai - ngarai, bukit - bukit batu
Ladang - ladang rimba
Hingga senja kala

Proklamasi tetap terdengar
Masuk ke setiap kalbu bumiku Nusantara
Ibu pertiwi bangkit
Dari tidur panjang

Inilah kemerdekaan Indonesia
Adalah milik kita
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Bangunlah kesejahteraannya

Indonesia

M E R D E K A !

Kamis, 17 Agustus 1996
Pukul 17.00 WIB

Merebut Dunia

Berfikir, bertindak
Menerobos kebekuan
Membina, Menelaah
Mengedepankan kebaikan

Bertameng di balik kebenaran
Membuat topeng kepalsuan
Berlaku ikhlas
Tawakal atau kerja keras

Menenggelamkan kesombongan
Menimbulkan kesederhanaan
Menaiki puncak ilmu pengetahuan
Kemudian dunia berada digenggaman

6 November 2000

Lupa Diri

Mengapa jiwa manusia
Jika diberi kuasa lupa asalnya
Mengapa hati manusia cepat melupakan
Jasa dari yang memberikan-Nya

Masihkah kita dapat berbicara dengan baik
Mana kala jiwa dan hati kita munafiq
Krisis tahun - tahun ini bukan main
Hampir merontokan sendi - sendi dasar masyarakat kita

Krisis akhlaq, krisis jiwa,
Krisis iman dan krisis kepercayaan
Malam pukul 00.00
Kita melihat Indonesia
Pada kondisi nol - nol

29 Juli 2000

Apa kabar Kemerdekaan

Apa kabar kemerdekaan
Pada baju - baju robek
Berlukis darah para pejuang

Pada gadis manis bergaun putih
Yang mati muda
Karena membela negeri

Apa kabar pahlawan
Pada bintang penghargaan
Berlencana emas dan perak
Yang kini telah kusam

Pada sawah dan ladang
Yang kering kerontang
Tanda kurangnya hujan dan keberkahan

Apa kabar politisi muda
Di hari Merdeka
Pada rumah yang kau bangun megah
Bergarasi mobil - mobil mewah
Di satu sisi kita melihat
Para petani telah kehilangan energi pemuda
Mereka telah dicuri jalan raya

Apa kabar hari merdeka
Pada nyiur hari Merdeka
Pada bulan yang sepotong tertiup awan
Pada planet bumi yang kian kepanasan
Pada orang - orang yang gigit jari
Tak sesuai antara impuan dan kenyataan
Pada biduk padi
Yang tak lagi berembun
Yang tak lagi tersenyum

Lobi Hotel Mulia Jakarta
Sabtu, 1 Agustus 2003

Merdeka Isya

Menjelang malam
Usai peringatan 17 Agustus
Aku di rundung perenungan

Masing - masing orang harus dicerahkan
Di setiap kampung yang terdapat
Kantong - kantong kebodohan
Harus dienyahkan

Sudah puluhan tahun Merdeka
Kita masih saja ditimpa nestapa
Segala derita dan ujian tiada terkira hebatnya

Alangkah sedihnya para Pahlawan
Yang dahulu berjuang
Seandainya bangkit dari kubur
Melihat jutaan anak - anak jatuh mencret
Dan busung lapar
Susah sekolah susah tiduran
Sementara remaja dan orang tuanya
Saling baku hantam

17 Agustus 2000

Merdeka

Kalau hari ini
Kita teriak Merdeka
Itu berkat jasa pendahulu kita

Kalau hari ini
Kita bicara Kemerdekaan
Karena dahulu
Ada orang - orang yang berjuang
Tak kenal upah dan pujian

Kalau hari ini
Kita dapat hidup
dan menikmati negeri ini
Karena ada para kusuma bangsa
Yang hatinya harum
Laksana bunga melati

Yang pikirannya jernih
Sebersih embun pagi
Telah mengorbankan jiwa raganya
untuk anak cucu hari ini
Untuk anak cicit hari nanti

26 Juni 2003

Percaya Pada Bisikan Nurani

Bukankah tiap - tiap kita menyadari
Antara hidup dan berjuang itu sama setali
Tiap - tiap kita harus tahu bahwa
Berjuang dan berkarya itu adalah
Hakikat dari segala kehidupan ini
Bukankah tiap - tiap kita kian sadar
Bahwa berjuang dan berbuat haruslah satu hati
Antara karya dan nurani

Senantiasa berkatalah pada hati
Jangan tanyakan kepada orang yang ragu
Hingga membuat hidupmu makin ragu
Berkatalah pada kehidupan
Dengan karya - karya yang berlian

Jadikan suara hidupmu
Suara yang kaya dengan pesona fikiran dan kerja
Jadikan fikiran - fikiran bersihmu
Sebagai mahkota perjuangan
Dalam menyusuri hari - hari tak pasti
Ini adalah kunci kekuatan
Untuk berpijak di bumi

Berkacalah pada hati nurani
Bersendikan pada keimanan yang luas dan dalam
Seperti langit dan bumi
Dan ikutilah sang pelaku
Kehidupan sejati

Sore hari,
29 November 2004

Kepada Pejuang Yang Mengharapkan Dunia

Adalah mimpi yang sia - sia
Jika kau hanya mengharapkan dunia
Sungguh suatu hidup yang fatamorgana
Jika hidup syarat dengan rangkaian
Pertanyaan dan peristiwa
Sebagai andalannya

Adalah mimpi saja
Jika engkau hanya berkata pada tabir sore
Hingga kau lupa pagi petang dan kegelapan
Bahkan kau lupa usia senja menjelang

Adalah suara - suara jiwa
Yang tak pernah kau temukan
Sebagai kata tak bermakna
Lihatlah suatu sore
Di tempat peristirahatanmu
Yang abadi

Bangunlah ke-elokan ke-elokan hari
Hingga kau tak pernah lagi singgah
Di bumi yang fatamorgana ini

Jangan kau mengharapkan apa - apa
Dari perjuangan yang telah kau lakukan
Janganlah merubah kata
Yang kau tahu pada akhirnya tiada berubah
Bersebab kau jual akhirat dengan segenggam dunia

Maka jadikan Hidup
Yang kau genggam hari ini
Sebagai pengorbanan pajang tiada bertepi
Sebagai wasiat besar
Dari para Pejuang yang telah pergi

Jadikanlah Perjuangan hari ini
Menjadi catatan sejarah yang tak terlupakan
Hiasi hidupmu dengan pesona yang indah
Berjuang pada pagi - pagi
Berjuang pada siang hari
Yang kau rengkuh dengan sejuta rencana di sore hari

Tahukah kau arti sebuah peristiwa
Kau mengertikah arti sebuah derita
Kau renungkanlah para Pahlawan itu
Bersimbah darah di akhir kehidupan
Dan dia tiada meminta upah

Maka kau tatap dengan tajam
Para penguasa dan pengusaha
Borjuis itu berfoya - foya
Di atas derita jutaan rakyatnya

29 November 2004

Aku Turut Serta

Kami yang telah menikmati alam Merdeka
Kami yang telah berada pada gerbang
59 tahun langkah Merdeka

Kami yang hanya rakyat kecil saja
Telah mampu membedakan
Alam penjajahan dengan alam kemerdekaan
Telah mejadi pengikat
Antara generasi hari ini
Dan generasi kemudian
Telah mampu pula melihat
Alam gelap dan terang

Katakan kepada para pejuang
Aku kini turut serta
Dalam membangun masa depan
Masyarakat dan Bangsa menuju pencerahan
Aku kini turut gembira
Generasi berikutnya lebih baik dan bermutu
Sebagai aset besar di hari depan
Dan aku turut serta
Bergerak di barisan pemuda

-2004-

Pahlawan Cilik di Waktu Senja

Ketika wajah kecil ku llihat
Sebagai penambah semangat
Dan spirit hidup atas segala
Persoalan yang berat

Ketika wajam malaikat kecil
Menari - nari di dalam hati dan jiwa

Aku memastikan semangat hidup bertambah
Di tengah hujan dan gelombang hidup
Yang nyaris tidak pernah putus - putusnya

Siapa pahlawan cilik itu
Dia tiada lain Putra - Putri Nusantara
Yang tengah tumbuh secara perlahan
Dari dalam rumah kita

Mereka anugerah besar kehidupan
Maka suntikanlah virus semangat kejuangan
Kedalam jiwa raga dan fikiran
Agar kemudian hari dia kian menyadari
Bahwa merekalah aset penting
Bangsa dan negeri ini

Aset utama di dalam masyarakat
Yang menjadi kunci
Atas kemajuan ummatnya sendiri

Di saat senja ini
Aku menyaksikan
segala kemujudan dan keterbelakangan
Segera akan tenggelam
Bersama datangnya sang malam
Dan segenap suara - suara suci ruh pahlawan
Bersama generasi harapan
Akan tampil secara pasti dan mencengangkan

Menjelang Maghrib,
28 Oktober 2004

Usai Renungan

Pada tengah malam
Di perkuburan taman Pahlawan yang dingin
Kami berjanji
"Menjadi pewaris negeri
Dengan kejuangan dan ketulusan
Kami mengabdi pada pertiwi
Sebagai wujud pengabdian
Pada Ilahi Rabbi"

Lalu dengan tersenyum pula
Kami menyusul kepekuburan
Bersama pahlawan kusuma bangsa
Yang telah tiada
Dari semenjak hidup hingga kami mati
Tetap terkenang jasamu
Pahlawan selalu abadi

Taman Pahlawan, Tengah Malam,
17 Agustus 2004

Berkaca Pada Pejuang Di Tengah Malam

Apa pantas kita di sebut penerus Perjuangan
Jika setiap saat yang kita fikirkan
Hanya keuntungan

Apa layak kita Berdiri
Di depan makam pahlawan
Jika malam kita berhadapan
Tapi pagi hari kita membelakangi itu pahlawan

Apa layak kita merenung dan berikrar
Di hadapan laskar para pejuang
Tapi tangan kita selalu kotor
Penuh penipuan dan kepalsuan

Coba buka layar hatimu
Dan lihatlah para pahlawan
Terbaring di situ menunggu
Untuk mendengar
Segala bisikan taubatmu
Astagfirullah

Di perkuburan Pahlawan
Tengah Malam, 17 Agustus 2004

Rumah Kami Rumah Indonesia

Tahukah kau
Bahwa kita pemeliharanya
Tak tahukah kau
Bila kita membiarkan rumah Indonesia ini bocor
Lalu kita semua akan menanggung akibatnya
Terombang ambing di perigi zaman kemajuan

Tahukah kau
Bila negara ini rusak
Maka kita semua akan
Menanggung segala kerugiannya

Tahukah kau
Bila hutan dan pepohonan
Kita tebang dan bakar
Maka kita semua yang menanggung
Segala kepanasannya

Sadarkah kita
Jika kita keruk, gali, dan habisi
Segala kekayaan tambang Indonesia
Maka anak cucu kita
Tinggal dapat ampas dan kotorannya

Hari Rabu, 1 September 2004

Tidak Ada Henti - Hentinya Berjuang

Di zaman Jepang dan Belanda
Dia perkasa dengan bambu runcingnya

Di zaman revolusi emerdekaan
Dia senandungkan lagu - lagu Indonesia Merdeka
Sambil membawa granat
Yang di ambil dari gudang amunisi musuhnya

Di zaman PKI
Ketika para Ustad dan Kyai
Di siapkan galian kubur
Di depan rumahnya sendiri
Sementara para orang - orang kerdil
Lari dari perjuangan
Tunggang langgang kepayahan

Di zaman Belanda
Kita melawan penjajah
Di zaman Merdeka
Kita saling curiga da saling memangsa

Kini para pejuang awal telah tiada
Pejuang sekarang adalah sebuah upaya
Membangun kembali bangsa
Dengan keutuhan dan kekokohan
Serta kebesaran untuk menaikan
Indonesia kembali ke puncak dunia

Rabu, 1 September 2004

Kemerdekaan Untuk Siapa

Untuk kamu
Untuk kami
Untuk Rakyat
Atau untuk pejabat

Apakah rakyat yang merdeka atau pejabat
Yang terys hidup di atas derita rakyat
Seharusnya rakyatlah yang menikmati
Lebih banyak hasil kemerdekaan
Dari pada yang lainnya

Inti kemerdekaan adalah rakyat yang makmur
Inti kemerdekaan adalah rakyat yang maju
Dan cerdas

Hakekat kemerdekaan
Adalah berpadunya suara hati rakyat
Dengan pemimpinnya
Kemerdekaan bukan milik siapa - siapa
Tapi milik kita semua
Sebagai pewarisnya

Kamis, 19 Agustus 2004

Pesan Kemerdekaan

Bukan milik Elit
Bukan Meraup keuntungan
Bukan membuang amanah dan kepercayaan

Bangunlah Indonesia Hari ini
Sebagaimana para Pejuang dan Pahlawan
Berkorban untuk tanah negerinya
Meski perih, pedih, dan payah

19 Agustus 2004

Pada Dua Gadis Tempo Doeloe

Hai kau
Pejuang putri
Melati suci
Pujaan Hati

Pada Putih Benderaku
Pada senyum tipis episode Indonesiaku
Pada guratan wajah lukamu
Di atas wajah sutera kapas
Yang halus dan lembut itu

Pada kulit tangan mulus
Pengerek Bendera Indonesia di masa nan Dahoeloe
Khodijah dan fatimah
Dua gadis belia
Pelipur lara Indonesia
Engkau gadis muda remaja
Di sunting pada tamanku
Tanah Indonesia

Ba'da Magrib, Usai Peringatan,
17 Agustus 2004
Jl. Pahlawan Batu Tulis, Bogor

Kemuliaan di Alam Akhirat

Jika seorang pejuang tak berfikir
Untung rugi atas pengorbanannya
Apabila membela kepentingan negara dan masyarakat
Dengan sepenuh hatu dan niat sesungguhnya
Ketika dunia melupakan jasa - jasanya

Jangan kecil hati
Malaikat mencatat
Ketika di dunia tak dapat
Di Akhirat ditunggu malaikat rahmat

Maka pastikan hidupmu tulus
Untuk berkorban
Ikhlas berjuang
Dan tak peduli dengan kata orang
Yang penting hidupmu bermanfaat
Dan kau sumbangkan pada kemajuan
Harkat dan martabat ummat
Sedari muda hingga ajal menjelang

Inilah hakekat sebuah kemuliaan
Yang hidup hingga di akhir kelak

2004

Penjajahan Atas Bangsa - Bangsa

Kini ketika ilmu dan teknologi
Semakin tinggi dan canggih
Kita melihat pula era gaya baru penjajahan
Penindasan bangsa besar
Atas bangsa lemah dan kecil tak berdaya
Penaklukan negara raksasa
Atas suatu negeri yang tak berkembang
Lemah dan tak ada kekuatan apa - apa

Kini setelah berlalunya
Penjajahan fisik atas bangsa - bangsa
Kita kembali lagi pada penjajahan gaya baru
Penjajahan sehalus jarum sutra
Yang memperdaya sendi - sendi hidup kebangsaan
Suatu bangsa yang lemah karakternya

Penjajahan cara berfikir
Penjajahan mode dan life style
Dalam rayuan hidup bebas
Sebebas - bebasnya

Sore,
17 Agustus 2004

Surat Terbuka Kepada Penghianat Bangsa

Tidak kah kau lihat mayat - mayat
Para kusuma bangsa
Di pintu - pintu kuburnya
Tidak kah kau ingat para pejuang
Yang menyumbangkan jiwa raga
Tanpa pamrih dan tampa di minta

Tidak kah kau dapat melihat
Dengan mata batinmu
Bahwa kini engkau hadir karena ketulusan
Dan jasa Ayah Bunda
Yang mengharapkan senantiasa doa - doamu
Ketulusanmu
Kebijakanmu
Ketaatanmu
Dan Pengorbananmu

Pada kebenaran dan pembelaanmu
Pada pejuang yang menegakkan kebenaran
Dan menyingkirkan kebatilan
Tapi mengapa engkau kini
Menjadi kawan syetan
Bukan malah jadi pahlawan atau pejuang

Apakah gerangan yang menggodamu
Hingga engkau kini jadi pecundang
Bagi bangsamu sendiri

Engkau menjadi agen kotor luar negeri
Engkau jadi maling di rumah besarmu sendiri
Tidak kah engkau takut mati
Wahai para koruptor negeri

Pada Penarikan Merah Putih
17 Agustus 2004

Yang Putih Yang Terjulur

Dengan Merah Putih yang terjulur dari masa kemasa
Indonesia hari ini adalah
Sambungan dari nenek moyang
Indonesia terdahulu
Masyarakat hari ini adalah
Lanjutan dari masyarakat yang telah lalu
Pemimpin hari ini adalah
Regenerasi dari para pendahulu
Bendera hari ini yang kau hormati adalah
berkat perjuangan naiknya Merah Putih
Oleh para pejuang di kantong - kantong
Pertahanan musuh

Keringat yang kau kucurkan
Lantaran hadir pada upacara kemerdekaan
Adalah berkat kucuran darah para pejuang
Yang telah mengorbankan jiwa dan raganya
Untuk kita dan anak cucu di hari depan

Jelang detik - detik upacara HUT RI Ke-59
17 Agustus 2004

Kita Hormati Pemimpin Kita

Dengan irama genderang drum band
Kau ku iringi
Dengan suara tangisan bayi - bayi lahir
Mohon dengarka kami

Dengan hentakan suara - suara TKI yang di pulangkan
Dari negeri jiran tahun ini
Dengan suara - suara perempuan setengah baya
Mendo'akan para penjaga bendera

Dengan sorotan mata tajam
Para Pejuang dan Veteran
Yang kurang kesejahteraan dan perhatian

Dengan siswa - siswi yang berkulit putih
Menahan panasnya sinar matahari
setelah membakar pipinya
Yang merah delima

Dengan pakaian resmi rapi dan bersih
Kita hormati pemimpin kita
Dengan jiwa lapang, bersih dan terbuka
Mari kita bangun kembali Indonesia

Jelang Puncak Upacara
17 Agustus 2004

Puisi Kemerdekaan

Kita yang menangis melihat Indonesia
Ada apa hidup
Ada apa Indonesiaku

Pada bunga - bunga Bangsa
Pada kata - kata yang tak terucap
Pada para kusuma bangsa yang telah tiada
Pada linangan air mata
Janda - janda tua yang telah kehilangan suami
Bahkan putra - putranya

Pada api kemerdekaan yang nyaris padam
Lidah apunya bergoyang - goyang
Tertiup angin topan
Dan gelombang permasalaha

Kepada para perwira muda
Kepada para pencetus proklamasi
Kepada pemimpin bangsa yang letih
Kepada Ibu Pertiwi yang tengah menangis sedih
Air matanya membanjiri pulau - pulau
Indonesia hari ini

Jelang Upacara Puncak,
17 Agustus 2004

Batu Kemun Dalam Catatan Panjang

Aku menulis catatan sejarah
Di atas batu kemun yang purba
Tentang para pejuang
Yang digorok di atas batu sebesar rumah
Darahnya menetes hingga batu itu hitam warnanya

Batu biasa tapi sejarahnya yang luar biasa
Sungguh seram dan angker menaikinya
Lihatlah rumah - rumah elit terlihat berbaris
Dari atas batu ini

Pesona Bogor dapat tergambarkan dari tempat ini
Inilah batu kemun yang penuh pesona
Karena sejarahnya yang panjang
Sungguh menaikan bulu roma

Di atas batu kemun, Sabtu jelang sore,
21 November 2004